Hati-hati, Dosa adalah Penyakit yang Menjalar !




Dosa yang kita lakukan mirip seperti penyakit yang menempel dalam tubuh. Satu bagian yang terserang penyakit bisa menjalar dan mempengaruhi organ yang lain. Begitu pula dengan dosa.
Satu dosa yang kita lakukan bagai penyakit yang menempel dalam jiwa. Suatu saat penyakit ini akan menjalar dan menggiring kita untuk melakukan dosa lain.
Mari kita simak firman Allah berikut ini,
إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau).” (QS.Ali Imran:155)
Ayat ini menceritakan orang-orang yang berpaling ketika berjihad bersama nabi. Apa yang membuat mereka berpaling?
“disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau).”
Ternyata dosa-dosa mereka di masa lalu membuat mereka berpaling dari Nabi. Dosa itu seperti virus yang akan aktif kapan saja dan mempengaruhi pelakunya untuk melakukan pelanggaran yang lain.
Dalam ayat lain Allah berfirman,
ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَىٰ أَنْ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَ
“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya.” (QS.ar-Rum:10)
Ayat ini menguatkan ayat yang pertama kita sebutkan. Ternyata efek dari dosa itu bisa membuat pelakunya mendustakan ayat-ayat Allah bahkan mengolok-oloknya.
Maka kesimpulannya adalah dosa itu memiliki efek yang beruntun. Tidak dilakukan sekali lalu selesai. Namun memiliki efek jangka panjang yang berbahaya. Karena satu dosa bisa menggiring kita pada dosa lain.
Lalu apa solusinya?
Solusinya, ketika kita terkalahkan oleh hawa nafsu dan melakukan dosa maka segeralah bertaubat untuk mematikan virus dosa itu. Jika kita menunda taubat maka virus itu akan menjalar kemana-mana dan menggiring kita untuk melakukan dosa-dosa baru.
Dan begitulah anjuran Al-Qur’an, seperti dalam firman-Nya,
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera.” (QS.an-Nisa’:17)
Semoga bermanfaat…

Source : Khazanahalquran.com

Ketua GNPF: Ummat Islam Bukan Ancaman

JAKARTA - Islam adalah agama damai sehingga munculnya ghirah ummat Islam untuk bersatu dan bersaudara tidak bisa dipandang sebagai ancaman. Persatuan dan persaudaraan ummat Islam Indonesia yang terus bergelora seharusnya dimaknai sebagai potensi bangsa untuk menjaga kedaulatan bangsa. Karena jangankan darah, nyawa pun siap diberikan untuk negara asalkan potensi yang dimiliki ummat ini tidak dikebiri dan tidak diperlakukan secara zhalim.

Tuduhan kepada ummat Islam tidak Pancasilais, anti-Bhinneka Tunggal Ika, intoleran, adalah upaya yang ingin memecah belah bangsa. Bahkan sesama ummat Islam mulai diadudomba padahal ummat saat ini sudah reaktif dan skeptis terhadap informasi-informasi hoaks dan fitnah yang terus diembuskan para penghianat bangsa dan penghianat Pancasila.

"Aksi Bela Islam jangan dianggap sebagai ancaman. Ini adalah potensi ummat Islam yang harus direspons dengan positif. Islam adalah agama damai, jangan terpurukkan mereka. Islam kalian tuduh dengan berbagai tudingan. Padahal, kalau ada ummat paling ingin tegakkan NKRI, itulah Islam.  Ummat Islam tidak hanya menyiapkan darahnya untuk NKRI, tetapi sudah menyiapkan nyawanya," tegas Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) KH Bachtiar Nasir pada Subuh Berjamaah di AQL Islamic Center, Jakarta, Ahad (22/1).

Pimpinan AQL Islamic Center ini mengatakan, toleransi sudah dan struktur sosial Islam sudah diatur sebaik mungkin untuk kebaikan ummat manusia. Konsep Islam "lakum diinukum waliyadiin" atau "bagi kalian agama kalian dan bagi saya agama saya" sangat ideal dalam tatanan masyarakat bergama. Inilah wujud toleransi ummat Islam, Islam adalah pemimpin bagi Islam, dan ummat lain juga hanya jadi pemimpin bagi ummat lain. Inilah yang ditegaskan dalam Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 51.

"Orang yang memilih pemimpin kafir, cara berpikirnya hingga pada semua sikapnya akan sama dengan pemimpinnya. Karena agama rakyat tergantung agama pemimpinnya, budaya rakyat tergantung budaya pemimpinnya," katanya.

Dengan begitu, kaum mayoritas haruslah dipimpin dari kalangannya. Itu berlaku bagi ummat Islam, Kristen, Hindu, dan Budha. Karenanya, KH Bachtiar Nasir mengingatkan, aksi ummat yang dimotori GNPF MUI tidak perlu dikhawatirkan sebagai ancaman. "Shalat subuh jamaah bukan siaga perang. Ini adalah peran ummat untuk membangkitkan izzah ummat Islam," kata Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat ini.

Subuh Berjamaah AQL Islamic Center mengangkat tema " Tegakkan Al-Maidah 51". Jamaah yang hadir dari berbagai wilayah di Jabodetabek itu memadati Masjid AQL dan meluber ke jalan hingga beberapa shaf. (Azh)

Mau Indonesia Damai? Cegah Kemungkaran!

BIMA - Kiprah Front Pembela Islam (FPI) dalam dakwah inkarul munkar (mencegah kemungkaran) patut diapresiasi. Hanya sedikit organisasi yang fokus pada bidang dakwah tersebut karena resikonya memang jauh lebih berat. Karenanya, FPI sebagai ormas yang konsen di dakwah inkarul munkar harus benar-benar dijaga dan dibela jika ada pihak yang berani memeranginya.

Pesan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPD MUI) pada acara Tabligh Akbar Spirit 212 di Bima, Senin (30/1).

Tabligh Akbar bertema "Shalat Subuh Berjamaah dan Maghrib Mengaji Menuju Kejayaan Ummat dan NKRI" itu dihadiri juga Ketua GNPF KH Bachtiar Nasir dan KH Arifin Ilham. Ketua Dewan Pembina GNPF Habib Rizieq Syihab tidak hadir sehingga diwakili oleh Dewan Syariah FPI Habib Muhsin Al Attas.

KH Zaitun Rasmin memaparkan, untuk membentuk masyarakat yang aman dan damai maka dakwah amar ma'ruf dan nahi munkar harus dilakukan secara bersama-sama. Namun, yang paling ditekankan adalah inkarul munkar.

"Musibah dan kehinaan akan menimpa ummat Islam jika amar ma'ruf nahi munkar tidak dihidupkan. Musibah yang paling bahaya adalah munculnya orang-orang yang jahat sebagai penguasa," kata Ketua Umum PP Wahdah Islamiyah ini.

Dia memaparkan, untuk menegakkan kebenaran ada urutan-urutanya. Yang pertama adalah dakwah seperti tabligh dan nasehat. Kedua, amar ma'ruf yaitu menyerukan kebajikan. Ketiga, inkarul munkar yakni mencegah kemungkaran. Keempat adalah jihad melawan musuh-musuh Allah.

Dia menjelaskan, tingkatan tertinggi adalah jihad tapi syaratnya besar. Yang paling mungkin dilakukan saat ini adalah setingkat di bawahnya adalah mencegah kemunkaran. "Mencegah sebelum terjadi tapi kalau sudah terjadi adalah melawan kemungkaran itu. Merubah kemungkaran harus dengan tangan, kalau tidak bisa dengan lisan, dan kalau tidak bisa dengan hati, dan itu adalah selemah-selemahnya iman," kata Ketua Ikatan Dai Asia Tenggara ini.

Merubah dengan tangan, kata dia, harus sesuai dengan kompotensi mulai dari kepala rumah tangga, RT/RW, lurah, camat, bupati, hingga presiden. Merubah kemungkaran tidak cukup dengan imbauan. Namun, yang paling hina adalah menghindar.

"Jika kita merubah kemungkaran hanya dengan hati maka itulah yang paling lemah imannya. Karenanya kita harus tampil mencegah kemungkaran," katanya.

Menurut dia, banyak orang yang tidak mengamalkan perintah inkarul munkar, karena sebenarnya mereka tidak paham dan tidak terlatih. Harusnya dari kecil kita terlatih. Karena tidak terlatih akhirnya kita tidak berani. Kalau tidak bisa sendiri, kita harus bersama-sama. Kalau tidak berani, ayo dukung yang berani. Kalau ada ulama yang berani tampil untuk inkarul munkar, harus kita dukung karena itu adalah karunia. Kalau ada organisasi Islam yang komitmen melawan kemunkaran, jangan pernah coba-coba untuk mendukung pembubarannya.

"Kita diberi anugrah dan kemulian Islam dengan kiprah Habib Rizieq Syihab selama puluhan tahun. Mari kita jaga spirit ini. Ingat satu lagi spirit kita," katanya. *azh
Source : belaquran.com

Ceroboh, Abang Angkat Ahok Ditolak Jadi Saksi

Kecerobohan pihak Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dalam menghadirkan saksi yang meringankan (a de charge) terjadi pada persidangan ketigabelas yang digelar hari ini, selasa (07/03/2017). Analta Amir, Sarjana Hukum, yang sedianya akan dihadirkan sebagai saksi yang meringankan tidak memberikan kesaksian karena Jaksa menyampaikan keberatan yang dikabulkan oleh Majelis Hakim.

Pria yang mengaku sebagai Abang Angkat Ahok ini ditolak kehadirannya sebagai saksi oleh Majelis Hakim lantaran ketahuan pernah ikut hadir di ruang sidang dan mendengarkan keterangan saksi-saksi sebelumnya.

Nasrulloh Nasution menjelaskan bahwa Pasal 160 ayat (1) KUHAP telah menggariskan  dengan tegas mengenai saksi. Menurut ketentuan ini, saksi yang akan diambil keterangannya dipanggil satu per satu untuk masuk ke ruang sidang. Saksi yang akan diperiksa tidak dibolehkan mendengarkan keterangan saksi yang sedang diperiksa. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari saksi saling mempengaruhi sehingga tidak memberikan keterangan sesuai dengan yang mereka dengar sendiri, mereka lihat sendiri, atau mereka alami sendiri.

Ia menilai bahwa tindakan ceroboh yang dilakukan pihak Ahok ini justru akan memberatkan posisi Ahok dalam kasus Penistaan Agama ini. Penolakan ini dianggap sebagai pukulan telak bagi Penasehat Hukum Ahok yang sebelumnya selalu sesumbar akan menguliti saksi-saksi yang akan dihadirkan JPU.

Bahkan, Humphrey Djemat, salah satu Penasehat Hukum Ahok juga pernah mengatakan akan membuat Habib Rizieq terkencing-kencing. Faktanya, tak satupun kata-kata keluar dari bibir Humphrey ketika Habib Rizieq diperiksa menjadi saksi.

"Dia (Humphrey) terpesona dengan kehadiran Habib, makanya dia gak berani bertanya", ujar Nasrulloh.

Ia kemudian meminta kepada masyarakat agar terus mengawal kasus penistaan agama ini. Jangan sampai terjadi pengaburan informasi yang seakan-akan saksi-saksi yang diperiksa melemahkan dakwaan JPU, sebaliknya sampai sidang ketigabelas ini saksi-saksi yang telah diperiksa baik saksi JPU maupun saksi a de charge, semuanya menguatkan dakwaan JPU, tutupnya. (HA)
 
Sumber : belaquran.com