
Dosa yang kita lakukan mirip
seperti penyakit yang menempel dalam tubuh. Satu bagian yang terserang
penyakit bisa menjalar dan mempengaruhi organ yang lain. Begitu pula
dengan dosa.
Satu dosa yang kita lakukan bagai penyakit yang menempel dalam jiwa.
Suatu saat penyakit ini akan menjalar dan menggiring kita untuk
melakukan dosa lain.
Mari kita simak firman Allah berikut ini,
إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari
bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau).” (QS.Ali Imran:155)
Ayat ini menceritakan orang-orang yang berpaling ketika berjihad bersama nabi. Apa yang membuat mereka berpaling?
“disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau).”
Ternyata dosa-dosa mereka di masa lalu membuat mereka berpaling dari
Nabi. Dosa itu seperti virus yang akan aktif kapan saja dan mempengaruhi
pelakunya untuk melakukan pelanggaran yang lain.
Dalam ayat lain Allah berfirman,
ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَىٰ أَنْ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَ
“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah
(azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan
mereka selalu memperolok-oloknya.” (QS.ar-Rum:10)
Ayat ini menguatkan ayat yang pertama kita sebutkan. Ternyata efek
dari dosa itu bisa membuat pelakunya mendustakan ayat-ayat Allah bahkan
mengolok-oloknya.
Maka kesimpulannya adalah dosa itu memiliki efek yang beruntun. Tidak
dilakukan sekali lalu selesai. Namun memiliki efek jangka panjang yang
berbahaya. Karena satu dosa bisa menggiring kita pada dosa lain.
Lalu apa solusinya?
Solusinya, ketika kita terkalahkan oleh hawa nafsu dan melakukan dosa
maka segeralah bertaubat untuk mematikan virus dosa itu. Jika kita
menunda taubat maka virus itu akan menjalar kemana-mana dan menggiring
kita untuk melakukan dosa-dosa baru.
Dan begitulah anjuran Al-Qur’an, seperti dalam firman-Nya,
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera.” (QS.an-Nisa’:17)
Semoga bermanfaat…
Source : Khazanahalquran.com



