Hati-hati, Dosa adalah Penyakit yang Menjalar !




Dosa yang kita lakukan mirip seperti penyakit yang menempel dalam tubuh. Satu bagian yang terserang penyakit bisa menjalar dan mempengaruhi organ yang lain. Begitu pula dengan dosa.
Satu dosa yang kita lakukan bagai penyakit yang menempel dalam jiwa. Suatu saat penyakit ini akan menjalar dan menggiring kita untuk melakukan dosa lain.
Mari kita simak firman Allah berikut ini,
إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau).” (QS.Ali Imran:155)
Ayat ini menceritakan orang-orang yang berpaling ketika berjihad bersama nabi. Apa yang membuat mereka berpaling?
“disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau).”
Ternyata dosa-dosa mereka di masa lalu membuat mereka berpaling dari Nabi. Dosa itu seperti virus yang akan aktif kapan saja dan mempengaruhi pelakunya untuk melakukan pelanggaran yang lain.
Dalam ayat lain Allah berfirman,
ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَىٰ أَنْ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَ
“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya.” (QS.ar-Rum:10)
Ayat ini menguatkan ayat yang pertama kita sebutkan. Ternyata efek dari dosa itu bisa membuat pelakunya mendustakan ayat-ayat Allah bahkan mengolok-oloknya.
Maka kesimpulannya adalah dosa itu memiliki efek yang beruntun. Tidak dilakukan sekali lalu selesai. Namun memiliki efek jangka panjang yang berbahaya. Karena satu dosa bisa menggiring kita pada dosa lain.
Lalu apa solusinya?
Solusinya, ketika kita terkalahkan oleh hawa nafsu dan melakukan dosa maka segeralah bertaubat untuk mematikan virus dosa itu. Jika kita menunda taubat maka virus itu akan menjalar kemana-mana dan menggiring kita untuk melakukan dosa-dosa baru.
Dan begitulah anjuran Al-Qur’an, seperti dalam firman-Nya,
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera.” (QS.an-Nisa’:17)
Semoga bermanfaat…

Source : Khazanahalquran.com

Ketua GNPF: Ummat Islam Bukan Ancaman

JAKARTA - Islam adalah agama damai sehingga munculnya ghirah ummat Islam untuk bersatu dan bersaudara tidak bisa dipandang sebagai ancaman. Persatuan dan persaudaraan ummat Islam Indonesia yang terus bergelora seharusnya dimaknai sebagai potensi bangsa untuk menjaga kedaulatan bangsa. Karena jangankan darah, nyawa pun siap diberikan untuk negara asalkan potensi yang dimiliki ummat ini tidak dikebiri dan tidak diperlakukan secara zhalim.

Tuduhan kepada ummat Islam tidak Pancasilais, anti-Bhinneka Tunggal Ika, intoleran, adalah upaya yang ingin memecah belah bangsa. Bahkan sesama ummat Islam mulai diadudomba padahal ummat saat ini sudah reaktif dan skeptis terhadap informasi-informasi hoaks dan fitnah yang terus diembuskan para penghianat bangsa dan penghianat Pancasila.

"Aksi Bela Islam jangan dianggap sebagai ancaman. Ini adalah potensi ummat Islam yang harus direspons dengan positif. Islam adalah agama damai, jangan terpurukkan mereka. Islam kalian tuduh dengan berbagai tudingan. Padahal, kalau ada ummat paling ingin tegakkan NKRI, itulah Islam.  Ummat Islam tidak hanya menyiapkan darahnya untuk NKRI, tetapi sudah menyiapkan nyawanya," tegas Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) KH Bachtiar Nasir pada Subuh Berjamaah di AQL Islamic Center, Jakarta, Ahad (22/1).

Pimpinan AQL Islamic Center ini mengatakan, toleransi sudah dan struktur sosial Islam sudah diatur sebaik mungkin untuk kebaikan ummat manusia. Konsep Islam "lakum diinukum waliyadiin" atau "bagi kalian agama kalian dan bagi saya agama saya" sangat ideal dalam tatanan masyarakat bergama. Inilah wujud toleransi ummat Islam, Islam adalah pemimpin bagi Islam, dan ummat lain juga hanya jadi pemimpin bagi ummat lain. Inilah yang ditegaskan dalam Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 51.

"Orang yang memilih pemimpin kafir, cara berpikirnya hingga pada semua sikapnya akan sama dengan pemimpinnya. Karena agama rakyat tergantung agama pemimpinnya, budaya rakyat tergantung budaya pemimpinnya," katanya.

Dengan begitu, kaum mayoritas haruslah dipimpin dari kalangannya. Itu berlaku bagi ummat Islam, Kristen, Hindu, dan Budha. Karenanya, KH Bachtiar Nasir mengingatkan, aksi ummat yang dimotori GNPF MUI tidak perlu dikhawatirkan sebagai ancaman. "Shalat subuh jamaah bukan siaga perang. Ini adalah peran ummat untuk membangkitkan izzah ummat Islam," kata Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat ini.

Subuh Berjamaah AQL Islamic Center mengangkat tema " Tegakkan Al-Maidah 51". Jamaah yang hadir dari berbagai wilayah di Jabodetabek itu memadati Masjid AQL dan meluber ke jalan hingga beberapa shaf. (Azh)

Mau Indonesia Damai? Cegah Kemungkaran!

BIMA - Kiprah Front Pembela Islam (FPI) dalam dakwah inkarul munkar (mencegah kemungkaran) patut diapresiasi. Hanya sedikit organisasi yang fokus pada bidang dakwah tersebut karena resikonya memang jauh lebih berat. Karenanya, FPI sebagai ormas yang konsen di dakwah inkarul munkar harus benar-benar dijaga dan dibela jika ada pihak yang berani memeranginya.

Pesan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPD MUI) pada acara Tabligh Akbar Spirit 212 di Bima, Senin (30/1).

Tabligh Akbar bertema "Shalat Subuh Berjamaah dan Maghrib Mengaji Menuju Kejayaan Ummat dan NKRI" itu dihadiri juga Ketua GNPF KH Bachtiar Nasir dan KH Arifin Ilham. Ketua Dewan Pembina GNPF Habib Rizieq Syihab tidak hadir sehingga diwakili oleh Dewan Syariah FPI Habib Muhsin Al Attas.

KH Zaitun Rasmin memaparkan, untuk membentuk masyarakat yang aman dan damai maka dakwah amar ma'ruf dan nahi munkar harus dilakukan secara bersama-sama. Namun, yang paling ditekankan adalah inkarul munkar.

"Musibah dan kehinaan akan menimpa ummat Islam jika amar ma'ruf nahi munkar tidak dihidupkan. Musibah yang paling bahaya adalah munculnya orang-orang yang jahat sebagai penguasa," kata Ketua Umum PP Wahdah Islamiyah ini.

Dia memaparkan, untuk menegakkan kebenaran ada urutan-urutanya. Yang pertama adalah dakwah seperti tabligh dan nasehat. Kedua, amar ma'ruf yaitu menyerukan kebajikan. Ketiga, inkarul munkar yakni mencegah kemungkaran. Keempat adalah jihad melawan musuh-musuh Allah.

Dia menjelaskan, tingkatan tertinggi adalah jihad tapi syaratnya besar. Yang paling mungkin dilakukan saat ini adalah setingkat di bawahnya adalah mencegah kemunkaran. "Mencegah sebelum terjadi tapi kalau sudah terjadi adalah melawan kemungkaran itu. Merubah kemungkaran harus dengan tangan, kalau tidak bisa dengan lisan, dan kalau tidak bisa dengan hati, dan itu adalah selemah-selemahnya iman," kata Ketua Ikatan Dai Asia Tenggara ini.

Merubah dengan tangan, kata dia, harus sesuai dengan kompotensi mulai dari kepala rumah tangga, RT/RW, lurah, camat, bupati, hingga presiden. Merubah kemungkaran tidak cukup dengan imbauan. Namun, yang paling hina adalah menghindar.

"Jika kita merubah kemungkaran hanya dengan hati maka itulah yang paling lemah imannya. Karenanya kita harus tampil mencegah kemungkaran," katanya.

Menurut dia, banyak orang yang tidak mengamalkan perintah inkarul munkar, karena sebenarnya mereka tidak paham dan tidak terlatih. Harusnya dari kecil kita terlatih. Karena tidak terlatih akhirnya kita tidak berani. Kalau tidak bisa sendiri, kita harus bersama-sama. Kalau tidak berani, ayo dukung yang berani. Kalau ada ulama yang berani tampil untuk inkarul munkar, harus kita dukung karena itu adalah karunia. Kalau ada organisasi Islam yang komitmen melawan kemunkaran, jangan pernah coba-coba untuk mendukung pembubarannya.

"Kita diberi anugrah dan kemulian Islam dengan kiprah Habib Rizieq Syihab selama puluhan tahun. Mari kita jaga spirit ini. Ingat satu lagi spirit kita," katanya. *azh
Source : belaquran.com

Ceroboh, Abang Angkat Ahok Ditolak Jadi Saksi

Kecerobohan pihak Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dalam menghadirkan saksi yang meringankan (a de charge) terjadi pada persidangan ketigabelas yang digelar hari ini, selasa (07/03/2017). Analta Amir, Sarjana Hukum, yang sedianya akan dihadirkan sebagai saksi yang meringankan tidak memberikan kesaksian karena Jaksa menyampaikan keberatan yang dikabulkan oleh Majelis Hakim.

Pria yang mengaku sebagai Abang Angkat Ahok ini ditolak kehadirannya sebagai saksi oleh Majelis Hakim lantaran ketahuan pernah ikut hadir di ruang sidang dan mendengarkan keterangan saksi-saksi sebelumnya.

Nasrulloh Nasution menjelaskan bahwa Pasal 160 ayat (1) KUHAP telah menggariskan  dengan tegas mengenai saksi. Menurut ketentuan ini, saksi yang akan diambil keterangannya dipanggil satu per satu untuk masuk ke ruang sidang. Saksi yang akan diperiksa tidak dibolehkan mendengarkan keterangan saksi yang sedang diperiksa. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari saksi saling mempengaruhi sehingga tidak memberikan keterangan sesuai dengan yang mereka dengar sendiri, mereka lihat sendiri, atau mereka alami sendiri.

Ia menilai bahwa tindakan ceroboh yang dilakukan pihak Ahok ini justru akan memberatkan posisi Ahok dalam kasus Penistaan Agama ini. Penolakan ini dianggap sebagai pukulan telak bagi Penasehat Hukum Ahok yang sebelumnya selalu sesumbar akan menguliti saksi-saksi yang akan dihadirkan JPU.

Bahkan, Humphrey Djemat, salah satu Penasehat Hukum Ahok juga pernah mengatakan akan membuat Habib Rizieq terkencing-kencing. Faktanya, tak satupun kata-kata keluar dari bibir Humphrey ketika Habib Rizieq diperiksa menjadi saksi.

"Dia (Humphrey) terpesona dengan kehadiran Habib, makanya dia gak berani bertanya", ujar Nasrulloh.

Ia kemudian meminta kepada masyarakat agar terus mengawal kasus penistaan agama ini. Jangan sampai terjadi pengaburan informasi yang seakan-akan saksi-saksi yang diperiksa melemahkan dakwaan JPU, sebaliknya sampai sidang ketigabelas ini saksi-saksi yang telah diperiksa baik saksi JPU maupun saksi a de charge, semuanya menguatkan dakwaan JPU, tutupnya. (HA)
 
Sumber : belaquran.com

PDIP-Gerindra-PKS Akan Usung Risma-Uno Hadapi Ahok?

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terus membangun komunikasi politik dengan parpol yang belum mendukung calon petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Seperti diketahui, Ahok akhirnya memutuskan maju melalui partai politik di Pilkada 2017 bersama Nasdem, Hanura dan Golkar.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PKS DKI Syakir Purnomo mengatakan komunikasi politik dirasa perlu agar partai yang belum mengusung Ahok, nantinya mampu berkolaisi di Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017.

"PKS dan partai-partai lain akan membangun, berkolaborasi dalam kompetisi di Pilkada 2017 untuk melawan Pak Ahok," ujar Syakir saat dihubungi wartawan, Kamis (28/7/2016).

"Kami ingin yang terbaik untuk warga Jakarta. PKS akan terus berkomunikasi dengan Gerindra, Demokrat, PDI Perjuangan, PPP, PKB," katanya.

PDIP-PKS Ingin Cagub DKI yang Arif dan Bijaksana

Pada Sabtu (30/7) kemarin, Pengurus DPW PKS DKI Jakarta melakukan pertemuan dengan Pengurus DPD PDIP DKI Jakarta membahas Pilgub 2017. Kedua parpol sepakat menginginkan figur baru sebagai calon gubernur.

"Dalam pertemuan tadi kami berdua bersepakat untuk bersama-sama membangun Jakarta jadi lebih baik lagi sebagaimana saya yakin menjadi harapan masyarakat DKI," ujar Ketua DPW PKS DKI Jakarta, Syakir Purnomo dalam jumpa pers di Restoran Abunawas, Jl Matraman, Jakarta Timur, Sabtu (30/7/2016).

"Kami bersepakat kita ingin menghadirkan, pemimpin yang arif dan bijaksana, ke depannya, mudah-mudahan dengan pemimpin yang arif dan bijaksana, mampu berdialog bersosialisasi dengan baik kepada masyarakat," imbuh Syakir.

Sementara itu, Plt Ketua DPD DKI Bambang Dwi Hartono mengatakan pertemuan ini merupakan langkah awal untuk membangun kesepakatan dalam kontestasi Pilgub 5 tahunan.

"Intinya kami sepakat, mencari pemimpin yang arif dan bijaksana, dan kita punya asumsi, bahwa Jakarta ini kota besar, banyak SDM yang bagus," sebut Bambang.

Gerindra Inginkan Djarot atau Risma Jadi Cagub, Sandiaga Uno Cawagub  


Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Sandiaga Salahudin Uno terlipih menjadi kandidat calon gubernur dari partainya. Namun demikian, ada skenario yang diusulkan Gerindra DKI yakni menggandeng PDIP dan menyandingkan Sandiaga dengan Djarot Saiful Hidayat atau Tri Rismaharini (Risma).

Sandiaga bisa saja tak menjadi calon gubernur bila Gerindra berkoalisi dengan PDIP, melainkan cukup menjadi calon wakil gubernur. Sebagaimana diketahui, kursi yang dimiliki Gerindra di DKI kurang banyak ketimbang PDIP, yakni 15 kursi dibanding 28 kursi. PDIP adalah satu-satunya partai yang bisa mencalonkan nama ke Pilgub DKI 2017 tanpa harus berkoalisi dengan partai lain.

"Kita berharap berkoalisi dengan PDIP, ini prioritas pertama," Ketua Tim Penjaringan Cagub DKI Gerindra, Syarif, kepada detikcom, Sabtu (30/7/2016).

Jika terjadi koalisi PDIP-Gerindra maka kabarnya PKS akan ikut mensupport walau cagub-cawagubnya bukan dari PKS.


 Pernyataan Ketua Majelis Syuro PKS

Hingga saat ini Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belum memutuskan siapa bakal calon gubernur DKI Jakarta yang akan diusung.

"PKS nunggu aja, masih belum kan masih dua bulan, Agustus September," kata Ketua Dewan Syuro PKS, Salim Assegaf usai menghadiri acara 40 tahun pernikahan Susilo Bambang Yudhoyono di Djakarta Theatre. Sabtu (30/7/2016).

Assegaf menuturkan, meski beberapa bakal calon sudah melakukan komunikasi, namun pihak PKS hingga saat ini belum menentukan siapa calon yang akan diusung.

"Sandiaga dan banyak kan yang sudah berkomunikasi dengan PKS cuma kita masih menunggu lawannya kan kuat juga, jadi masih menunggu," lanjut dia.

Meski begitu, hingga saat ini PKS masih membuka peluang bagi para bakal calon yang akan diusung nantinya.

"Kita membuka ada beberapa calon dan di luar juga welcome mungkin Gerindra, Demokrat, juga PDI-P," tutupnya.

Sumber: Suara.com, detik.com, okezone

Imamah Wajib Ditegakkan , Menurut Imam Syafi’i

Dalam permasalahan imamah, Imam Syafi’i mengutip perkataan Imam Ali bin Abi Thalib ra yang menyatakan bahwa Imamah dalam Islam “Wajib ditegakkan dibawah kepemimpinan kaum Muslimin sehingga kalangan kafir pun dapat menikmati hak-haknya dengan baik, dengannya peperangan melawan musuh dicanangkan, stabilitas keamanan terjaga, kaum tertindas terlindungi dari pihak zalim, orang-orang yang baik dapat hidup tenang dan dapat terhindar dari ancaman orang-orang yang jahat. “Sebagaimana yang dianut oleh mayoritas ulama, Imam Syafi’i ra berpendapat bahwa imamah harus dipegang oleh kaum Quraisy. Menurut beliau, Imamah bisa saja terwujud tanpa baiat, jika memang terpaksa harus dengan cara seperti itu. Oleh karena itu diriwayatkan oleh muridnya yang bernama Harmalah bahwa sang Imam Syafii berkata “Setiap orang yang berasal dari kalangan Quraisy dan merebut kekhalifahan dengan cara kekerasan, kemudian masyarakat berkumpul dan mendukungnya, maka ia menjadi khalifah yang sah.”
Menurut Imam Syafi’i ra, ada dua kriteria yang dapat dijadikan patokan mengenai sahnya seorang menjabat sebagai khalifah;
  1. Orang yang akan menjadi khalifah harus berasal dari suku Quraisy
  2. Dukungan dan pengakuan masyarakat kepadanya, baik dukungan tersebut sebelum pengangkatannya sebagai khalifah seperti  baiat, atau dukungan tersebut datang sesudah pengangkatannya, seperti seseorang yang berhasil mengalahkan pihak yang berkuasa dan merebut kekuasaan dan setelah itu mendapatkan pengakuan dan legitimasi dari rakyat
Terlihat dari pernyatannya di atas bahwa Imam Syafi’i tidak memberikan syarat lain kecuali bahwa khalifah tersebut harus berasal dari keturunan Quraisy, bukan Bani Hasyim. Disimpulkan dari sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata “Khilafa Rasyidin berjumlah lima, empat orang sebelumnya (Abu Bakar ra, Umar ra, Utsman ra, Ali ra), kemudian khalifah Umar bin Abdul Aziz. “Jika Imam Syafi’i mewajibkan bahwa pengangkatan khalifah harus berasal dari keturunan Bani Hasyim, tentu beliau tidak memasukkan Umar bin Abdul Aziz sebagai khilafah yang sah, Sebab Umar bin Abdul Aziz berasal dari keturunan Bani Umayyah dan khalifah yang berasal dari kalangan Bani Hasyim hanya satu yaitu Imam Ali ra.
Inilah pendapat popular Imam Syafi’i berkenaan dengan kepemimpinan di dalam Islam. Sementara itu, berkenaan dengan permasalahan siapa yang lebih layak menjadi khilafah setelah Rasulullah saw wafat, maka Imam Syafi’i berpendapat bahwa Abu Bakar ra lebih utama memegang jabatan kekhalifan dibandingkan dengan Imam Ali ra. Hal ini didasari oleh dua hadis Rasulullah saw berikut ini
Hadis Pertama: Dengan sanad yang tersambung langsung kepada Imam Syafi’I diriwayatkan bahwa suatu saat pernah seorang wanita mendatangi Rasulullah saw dan menanyakan sesuatu kepada beliau, kemudian Nabi saw memerintahkan wanita itu untuk kembali pulang ke rumahnya. Mendengar jawaban tersebut, wanita itu berkata,
“Wahai Rasulullah, jika aku kembali, aku khawatir tidak dapat bertemu lagi dengan anda (wanita itu mengisyaratkan kekhawatirannya akan kepergian Rasul ke sisi Allah SWT). Nabi menjawab, “Datanglah kepada Abu Bakar.”
Hadis ini merupakan sebuah isyarat dari Nabi saw bahwa Abu Bakar ra adalah orang yang akan menjadi pengganti setelah beliau wafat.
Hadis Kedua: Diriwayatkan dengan sanad yang langsung sampai kepada Imam Syafi’I ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ikutilah (jadikanlah sebagai teladan kalian) dua orang setelahku, Abu Bakar dan Umar”.
Berkenaan dengan permasalahan siapakah di antara empat khalifah pengganti Rasulullah saw yang paling utama, Imam Syafi’I ra menentukannya berdasarkan urutan pergantian khalifah, sehingga jika demikian yang paling utama adalah Abu Bakar, kemudian Umar, Utsman dan Ali ra. Selanjutnya dalam hal pertentangan yang terjadi antara Imam Ali rad an Muawiyah bin Abu Sufyan, maka Imam Syafi’I menganggap bahwa Muawiyah dan orang-orang yang mendukungnya adalah kaum bughat yang menurut Al-Quran wajib ditumpas habis, kecuali jika mereka kembali kepada jalan Allah. Oleh karena itu, dalam kitab as-Siyar beliau menegaskan bahwa sikap Imam Ali dalam menghadapi pihak bughat adalah hujah.
Inilah beberapa pendapat Imam Syafi’I tentang permasalahan imamah dan perselisihan yang terjadi di antara para sahabat ra, Meski demikian, sebagaimana kaum Muslim yang lain, Imam Syafi’I ra sangat mencintai keluarga Nabi saw dan keturunannya yang suci dan diberkahi. Perasaan ini pula yang terpatri di seluruh hati kaum Muslim yang ikhlas.   Ketakjubannya terhadap sosok Imam Ali ra ini merupakan satu hal yang sudah menjadi rahasia umum pada saat itu. Di sebutkan bahwa dalam suatu kesempatan beliau pernah menyebut nama Imam Ali ra dalam majelisnya. Kemudian ada seorang laki-laki yang berkomentar, “Sesungguhnya penyebab utama berpalingnya orang-orang dari Imam Ali ra adalah sikap tegas beliau sendiri yang tidak peduli kepada siapa pun. Mendengar pernyataan tersebut sang Imam menjawab, “Ada empat perkara jika salah satu dari keempat perkara tersebut ada dalam diri seseorang, maka ia berhak untuk tidak peduli kepada orang lain; pertama adalah seorang yang zuhud, dan orang yang zuhud tidak peduli dengan dunia dan orang- orang yang tertipu dengannya. Kedua adalah orang yang berilmu, dan orang yang berilmu tidak akan peduli dengan cercaan orang lain yang bodoh. Ketiga adalah orang yang berani, dan orang yang berani tidak akan peduli terhadap siapa pun yang dihadapinya. Keempat adalah orang yang mulia. Orang yang mulia tidak akan peduli dengan penilaian siapa pun.”
Dalam kesempatan lain Imam Syafi’I mengomentari sosok Imam Ali ra dengan berkata; “Imam Ali ra adalah seorang yang mempunyai pengetahuan khusus dan mendalam tentang Al-Qur’an dan fiqih, Beliau pernah didoakan secara khusus oleh Nabi saw dan ditugaskan oleh Nabi saw menjadi qadhi untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi di tengah masyarakat. Di saat perkara yang dipersengketakan tersebut di ajukan lagi kepada Nabi saw, Nabi saw tetap memutuskan sebagaimana yamh diputuskan oleh Imam Ali ra.
Mengenai pendapat Imam Syafi’I ra yang menjadikan sikap Imam Ali ra dalam memerangi kalangan bughat sebagai hujah, hal ini tercatat dalam buku beliau al Umm dan dalam buku-buku lainnya yang menerangkan dasar-dasar mazhabnya.
Imam Ahmad bin Hanbal ra juga mengisahkan sikap Imam Syafi’I yang demikian. Al- Abiri dalam bukunya manaqih asy-syafi’I,
Imam Ahmad ra pernah dikabarkan bahwa Yahya bin Muin menyebut Imam Syafi’I sebagai seorang yang beraliran Syiah. Kemudian Imam Ahmad bertanya kepada yahya bin Muin, “Dengan dasar apa Anda mempunyai kesimpulan demikian?” Yahya menjawab, “Saya telah melihat buktinya dalam buku- buku karya Imam Syafi’I, yaitu pada saat beliau berbicara tentang cara menyikapi kaum bughat. Dalam permasalahan tersebut, dari awal sampai akhir pembahasan, Imam Syafi;I berhujah dengan sikap Imam Ali ra. “Imam Ahmad bin Hanbal ra menjawab, “Anda aneh sekali. Jika tidak berhujah dengan sikap Imam Ali ra, dengan sikap siapa lagi Imam Syafi’I berhujah dalam permasalahan ini? Bukankah pemimpin Islam yang pertama kali berhadapan langsung memerangi kaum bughat adalah Imam Ali ra?” Mendengar jawaban Imam Ahmad tersebut, Yahya malu karena pernyatannya tuduhannya itu.
Demikianlah, kami melihat sosok Imam Syafi’I senantiasa berada pada posisi tengah dan selalu bersikap moderat dalam mengemukakan pendapat-pendapatnya. Imam Syafi’I ra sangat mencintai dan kagum dengan sosok kepribadian Imam Ali ra. Beliau menganggap sikap Imam Ali ra dalam memerangi kalangan bughat sebagai hujah. Meski demikian, perasaan tersebut tidak membuatnya lebih mengutamakan Imam Ali ra dibandingkan dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman ra. Bahkan jika ada orang yang menyebutkan permasalahan ini, beliau akan menyebutkan kecintannya kepada Imam Ali ra lalu melanjutkan pernyatannya dengan mengatakan. “Akan tetapi, sejarah tidaklah sebagaimana yang kita harapkan”. (Dinukil dari kitab Imam As Syafi’i sejarah dan pemikirannya)

Sumber : eramuslim.com

Jangan Jadi Buih, Yang Ikuti manapun Gelombang Datang [Syeikh Muhammad Al Ghazali]

Akidah yang kuat akan membantu seseorang untuk memiliki semangat yang produktif, etos kerja yang tinggi, tabah dalam menghadapi cobaan berat, dan tegar dalam menatap berbagai bahaya  mengancam. Bahkan akidah yang kuat merupakansebuah kemudi yang mampu membangkitkan keberanian seseorang untuk mati syahid sekalipun dia tidak sempat bertemu dengan kekasih yang ia rindukan.
Demikianlah karakteristik keimanan apabila telah merasuk dan tertanam kuat dalam jiwa seseorang. Keimanan akan memberikan kekuatan luar biasa kepada pemiliknya dalam semua tingkah laku. Kalau dia berbicara, maka dia akan yakin dengan apa yang dia ucapkan. Apabila dia berkarya, maka dia mantap dengan apa yang ia perbuat. Kalau dia melangkah, maka akan mengayunkan kakinya kea rah yang jelas. Dia akan selalu merasa tenang karena kejernihan pikiran yang memenuhi  akal pikirannya dan rasa kasih sayang yang lebih mendominasi ruang hatinya. Dia akan sangat jarang merasa ragu ragu dan bimbang. Dia juga tidak akan mudah dihempas badai kencang sekalipun.
Allah SWT berfirman :
“Katakanlah, “ Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya akau akan bekrja pula, maka kelak kamu akan mengetahui, siapa yang akan mendapat siksa yang menghinakannya dan lagi ditimpa oleh azhab yang kekal.” (QS Az Zumar 39-40)
Demikianlah ruh yang selalu menatap ke depan dalam menjalankan aktifitasnya. Kepercayaan diri itulah yang mampu melihat bahwa sesuatu yang akan dilakukan merupakan sesuatu yang benar. Sikap seperti inilah yang membuatnya menjelma sebagai seseorang yang kokoh. Dia akan menjalin hubungan dengan sesame melalui mata hatinya. Ketika dia melihat masyarakat melakukan sebuah kebenaran, maka dia akan bergegas untuk menolong mereka. Namun ketika dia melihat mereka melakukan sebuah kesalahan, maka dia segera menarik dirinya untuk tidak ikut terlibat dalam kesalahan yang mereka perbuat.
Rasulullah SAW mengatakan,” Janganlah salah seorang dari kalian menjadi pembeo! Dia akan berkata,”aku akan selalu bersama dengan orang orang, jika mereka berbuat baik, maka akupun akan berbuat baik. Namun jika mereka berbuat jelek, maka aku pun akan berbuat jelek. Akan tetapi teguhkanlah pendirian kalian! Jika orang orang berbuat baik, maka hendaklah kalian berbuat baik. Sedangkan kalau mereka berbuat buruk, maka hendaklah kalian menghindari perbuatan buruk mereka.” HR At Tirmidzi
Orang yang lemah adalah orang yang diperbudak oleh tradisi yang berlaku di daerahnya. Dia mendasarkan perbuatannya pada parameter tradisi, bukan pada aturan syariat Islam. Bayangkan saja kalau tradisi tersebut merupakan tradisi yang salah, maka dia akan merasakan kesengsaraan, baik di dunia maupun di akhirat.
Sebenarnya banyak sekali orang orang yang mempratekkan tindakkan yang tidak sesuai dengan syariat ketika mereka bahagia atau sengsara. Mereka lebih berpegang kuat pada tradisi yang keliru daripada berpedoman pada ajaran agama.
Berbeda dengan seorang mukmin yang benar, dia tidak akan pernah berpegang pada aturan yang tidak sesuai dengan ajaran agama Allah. Mungkin dengan menentang tradisi yang berkembang di masyarakat , dia akan menjumpai berbagai macam rintangan berat. Namun seorang muslim tidak seharusnya takut akan cemoohan orang penghina. Hendaklah ia tetap melaksanakan tekadnya tanpa peduli pada pedasnya kritikan dan cacian mulut yang tidak bertanggung jawab.

– Syeikh Muhammad Al Ghazali-